KOMUNIKASI.NET

Marketing dikuasai AI, Pengusaha Indonesia siap jadi Raja atau sekedar operator mesin?

 2026: Marketing Dikuasai AI! Pengusaha Indonesia Siap Jadi Raja atau Sekadar Operator Mesin?



Oleh: Kang Apik – Komunet Indonesia www.komunikasi.net


Tahun 2026 ini kita sedang berada di titik balik sejarah marketing.


AI bukan lagi sekadar alat bantu.

Bukan lagi sekadar “asisten digital”.


AI sudah menjelma menjadi “otak operasional marketing.”


Ia mengatur targeting.

Ia menulis copywriting.

Ia membuat desain visual.

Ia menentukan bidding iklan.

Ia bahkan membuat video ads otomatis lengkap dengan script dan optimasi performanya.


Pertanyaannya sekarang bukan lagi:

“Apakah AI penting?”


Pertanyaannya adalah:

Kalau AI sudah bisa memutuskan hampir semuanya… lalu peran kita di mana?


Dalam artikel ilmiah berjudul “AI-Powered Marketing: What, Where and How?”, profesor marketing kelas dunia, Venkatesh Kumar dari Georgia State University, menjelaskan secara sistematis bagaimana AI mengubah wajah marketing global.


Beliau membagi pembahasannya menjadi tiga pertanyaan besar:

What. Where. How.


Mari kita bedah dengan gaya Komunet: tajam, aplikatif, dan relevan untuk pengusaha Indonesia.


1️⃣ WHAT – Apa Itu AI-Powered Marketing?


AI-Powered Marketing adalah pendekatan marketing yang:


- Menghasilkan insight pelanggan secara otomatis


- Mengotomatisasi keputusan


- Meningkatkan efisiensi operasional


- Menciptakan pengalaman personal yang presisi


Artinya?


AI bukan hanya membaca data.

AI menyatukan data, menganalisisnya, lalu mengeksekusi strategi.


Contohnya nyata.


Di Amazon, lebih dari 35% penjualan berasal dari sistem rekomendasi AI.


Di Netflix, film yang muncul di layar Anda, urutannya, bahkan thumbnail-nya—semua dikendalikan algoritma.


Bukan manusia yang memilihkan untuk Anda.

AI yang memutuskan.


Ini bukan teori. Ini praktik global.


2️⃣ WHERE – Di Mana AI Bekerja?


AI tidak bekerja di satu titik saja. Ia menguasai seluruh funnel marketing:


🔹 Market Research → memprediksi tren

🔹 Segmentation & Targeting → membagi pelanggan super-detail

🔹 Pricing → harga berubah mengikuti demand

🔹 Advertising → menentukan siapa yang melihat iklan

🔹 Customer Experience → chatbot & personalization

🔹 Retention → mendeteksi pelanggan yang akan berhenti membeli


Sekarang bayangkan ini diterapkan pada UMKM Indonesia.


AI bisa:


- Menentukan jam posting terbaik


- Menguji 20 headline sekaligus


- Mengoptimasi iklan secara real-time


- Memprediksi siapa yang siap closing


Kalau dulu kita mengandalkan feeling…

Sekarang semuanya berbasis data.


3️⃣ HOW – Bagaimana Cara Implementasinya?


Menurut Kumar, ada tiga mesin utama:


1. Data Collection & Integration


Tanpa data, AI mati.

Data pelanggan adalah bahan bakar.


2. Machine Learning & Analytics


AI belajar dari pola.

Ia memprediksi perilaku sebelum pelanggan sadar.


3. Action & Automation


Di tahap ini, AI mengeksekusi.

Bukan sekadar memberi saran.


Inilah momen ketika AI berubah dari “alat bantu” menjadi “decision engine.”


⚠ Tapi Hati-Hati…


AI bukan tanpa risiko.


- Risiko kebocoran data

- Bias algoritma

- Ketergantungan berlebihan

- Kesenjangan skill SDM


Dan yang paling berbahaya:

Ketika manusia berhenti berpikir karena terlalu percaya pada mesin.


AI bisa membaca pola.

AI bisa memprediksi perilaku.

AI bisa mengeksekusi kampanye dengan presisi luar biasa.


Tapi AI tidak punya empati.

AI tidak punya nurani.

AI tidak punya nilai.


Ia hanya menjalankan perhitungan.


Bagi saya, sebagai praktisi dan pembina pengusaha di Komunet Indonesia, pertanyaannya bukan lagi:


“Seberapa canggih teknologi kita?”


Tetapi:


Untuk apa teknologi itu kita gunakan?


Apakah hanya untuk mengejar profit?

Atau untuk membangun hubungan jangka panjang?


Karena marketing sejatinya bukan soal menjual produk.

Marketing adalah tentang membangun kepercayaan.


Ke depan, hampir semua proses marketing mungkin bisa dijalankan AI.


Tapi satu hal yang tidak akan pernah tergantikan:


👉 Kemampuan manusia memberi makna.

👉 Kemampuan manusia menjaga nilai.

👉 Kemampuan manusia menentukan arah.


Di era otomatisasi total, justru nilai kemanusiaan menjadi pembeda paling kuat.


Teknologi membuat kita lebih cepat.

Tetapi hanya kebijaksanaan yang membuat kita tetap benar arah.


Maka pilihan ada di tangan kita:


Menjadi operator mesin?

Atau menjadi arsitek masa depan bisnis?


Pengusaha Indonesia harus memilih.


Dan menurut saya…

yang akan bertahan bukan yang paling cepat memakai AI.


Tetapi yang paling bijak menggunakannya.