📰 BERITA EKONOMI & BISNIS UMKM
Pasca Lebaran, Pola Belanja Masyarakat Berubah Drastis: Kang Apik Sebut Perhatian Kini Jadi Mata Uang Baru Ekonomi
CIREBON — Suasana ramai penjualan yang biasanya terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri perlahan mereda. Sejumlah pelaku UMKM di berbagai daerah mulai merasakan penurunan transaksi beberapa minggu setelah Lebaran. Fenomena ini dinilai bukan sekadar siklus tahunan, melainkan bagian dari perubahan besar perilaku konsumen di era digital.
Praktisi Branding UMKM dan Industri dari Komunet Indonesia, Kang Apik, menyebut kondisi tersebut berkaitan erat dengan konsep attention economy, yaitu situasi ketika perhatian manusia menjadi sumber daya ekonomi paling bernilai saat ini.
Menurutnya, banyak pelaku usaha masih memahami penurunan penjualan pasca Lebaran hanya sebagai faktor daya beli, padahal perubahan utamanya justru terjadi pada pola perhatian konsumen.
“Hari ini masalahnya bukan hanya uang masyarakat berkurang setelah Lebaran, tetapi fokus dan perhatian mereka juga ikut menurun karena kelelahan informasi dan promosi,” ujar Kang Apik dalam keterangannya kepada media, Rabu (25/3).
Pergeseran Pola Belanja Setelah Lebaran
Kang Apik menjelaskan bahwa sebelum Lebaran, keputusan belanja masyarakat lebih banyak dipengaruhi faktor emosional. Tradisi tampil baru, kebutuhan sosial, serta momentum penerimaan Tunjangan Hari Raya (THR) mendorong konsumsi meningkat signifikan.
Namun setelah Idul Fitri, perilaku tersebut berubah menjadi lebih rasional.
Masyarakat mulai melakukan penyesuaian keuangan dengan memprioritaskan kebutuhan utama dibanding keinginan konsumtif. Konsumen menjadi lebih selektif, membandingkan produk, membaca ulasan, serta mempertimbangkan manfaat jangka panjang sebelum membeli.
“Kalau sebelum Lebaran orang bertanya produknya menarik atau tidak, setelah Lebaran pertanyaannya berubah menjadi perlu atau tidak,” katanya.
Perubahan psikologis inilah yang sering tidak diantisipasi pelaku usaha.
Era Attention Economy: Perhatian Lebih Mahal dari Informasi
Konsep attention economy sendiri pertama kali dikenalkan oleh ilmuwan dan peraih Nobel Ekonomi 1978, Herbert A. Simon, yang menyatakan bahwa kelimpahan informasi justru menciptakan kelangkaan perhatian.
Menurut Kang Apik, kondisi tersebut kini sangat terasa di masyarakat digital. Konsumen setiap hari dibanjiri konten media sosial, iklan digital, video pendek, hingga notifikasi aplikasi, sehingga terjadi apa yang disebutnya sebagai attention fatigue atau kelelahan perhatian.
Akibatnya, promosi yang terlalu agresif justru cenderung diabaikan.
“Di era sekarang, brand tidak lagi sekadar menyampaikan pesan. Tantangan utamanya adalah merebut dan mempertahankan perhatian,” jelasnya.
Platform Digital Menjual Waktu Pengguna
Ia juga menyoroti model bisnis platform digital global seperti Google, Meta, TikTok, dan YouTube yang dinilai berbasis pada pengelolaan perhatian pengguna.
Menurutnya, algoritma platform bekerja dalam tiga tahapan utama, yakni menangkap perhatian melalui konten menarik, menahan perhatian lewat fitur seperti infinite scroll dan autoplay, serta memonetisasi perhatian melalui iklan tertarget.
“Platform sebenarnya tidak menjual konten, tetapi menjual waktu pengguna kepada pengiklan,” ujarnya.
Dalam sistem tersebut, semakin lama seseorang berada di layar, semakin tinggi nilai ekonominya.
Strategi UMKM Harus Berubah
Kang Apik menilai banyak UMKM melakukan kesalahan dengan tetap menggunakan strategi promosi Ramadan untuk pasar pasca Lebaran. Padahal kondisi psikologis konsumen sudah berbeda.
Jika pada periode Ramadan strategi diskon dan urgensi penjualan efektif, maka setelah Lebaran pendekatan yang dibutuhkan adalah edukasi, storytelling, serta pembangunan kepercayaan jangka panjang.
Ia menegaskan bahwa fase setelah Lebaran justru menjadi momentum penting untuk memperkuat branding.
“Ramadan adalah momentum penjualan, sedangkan pasca Lebaran adalah momentum membangun ingatan brand,” katanya.
Perhatian Jadi Aset Ekonomi Baru
Kang Apik menyimpulkan bahwa perubahan perilaku konsumen saat ini menunjukkan pergeseran fundamental dalam ekonomi modern.
Media berlomba mengumpulkan perhatian, brand berusaha membelinya melalui iklan, sementara platform digital mengelola dan memonetisasinya.
“Di era digital, yang paling mahal bukan lagi informasi, tetapi perhatian manusia,” ujarnya.
Ia mengingatkan pelaku UMKM agar tidak hanya fokus pada produk dan harga, tetapi juga pada kemampuan membangun relevansi dan kedekatan dengan konsumen.
“Yang terlihat akan dipilih, yang diingat akan dibeli, dan yang dipercaya akan bertahan,” pungkasnya. (Red)

