KOMUNIKASI.NET

Kisah Perjalanan Kang Apik: Dari Aktivis Pemuda ke Penggerak Ekonomi Umat

 

Dari Burger ke Branding - Kisah Inspiratif Penggerak Ekonomi Umat

Di tengah hiruk pikuk zaman yang serba cepat, ada satu sosok yang memilih berjalan dengan irama berbeda.

Bukan karena ia tertinggal, tapi karena ia tahu: perubahan sejati tidak lahir dari keramaian, melainkan dari ketekunan menyalakan api, meski sendirian.

Dialah Kang Apik, seorang anak kampung dari Lemahabang, Cirebon, yang tumbuh bukan dari ruang nyaman, melainkan dari perjuangan.

Kini namanya melekat pada gerakan pemberdayaan UMKM dan ekonomi umat.

Tapi di balik semua itu, ada kisah panjang tentang keberanian, kehilangan, keyakinan, dan kebangkitan — kisah seorang pemuda yang memutuskan untuk tidak menunggu perubahan, tapi menciptakannya.


Akar yang Menyatu dengan Tanah

Segalanya dimulai dari tanah sederhana di Cirebon.

Sejak Sekolah Kang Apik Aktif menjadi Pengurus OSIS dan MPK, bahkan mengikuti Perkaderan Baitul Arqam di Pemuda Muhammadiyah.

Di Masa Kuliah, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua PK KNPI Kecamatan Lemahabang.

Dari sanalah ia belajar arti tanggung jawab, loyalitas, dan pengabdian. Tak sekadar memimpin rapat atau mengatur kegiatan, tetapi menghidupkan semangat gotong royong di tengah masyarakat muda pedesaan.

Tahun-tahun berikutnya, kiprahnya makin luas.
Sebagai Ketua Bidang Ekonomi, Kewirausahaan & Koperasi Pemuda Muhammadiyah Cirebon dan anggota Majelis Ekonomi PD Muhammadiyah Cirebon, Kang Apik mulai memadukan dua hal yang menjadi ciri khasnya hingga kini: gerakan kepemudaan dan pemberdayaan ekonomi.

Di lingkungan yang penuh kehangatan, tapi juga keterbatasan, Kang Apik tumbuh dengan dua warisan: kerja keras dan cita-cita besar.

“Dari dulu saya tidak bisa duduk diam melihat potensi yang dibiarkan,” ujarnya suatu kali sambil tersenyum.
“Mungkin karena itu saya tidak pernah bisa berhenti bergerak.”


Gerakan pertamanya bukan di aula megah atau ruang seminar.


Tapi di gerobak burger dan dapur kecil yang disewa di Cirebon, tempat ia belajar tentang harga bahan baku, rasa kepercayaan pelanggan, dan arti sabar dalam setiap gagal.

Dari Gerobak Burger yang sempat berkembang di beberapa kota, serta dari perjuangan membangun industri sederhana Kecap dan Syrup, disitulah, semangatnya diuji — sekaligus dibentuk.

Ia belajar bahwa bisnis bukan hanya soal untung rugi, tapi tentang komitmen untuk terus menyalakan nyala kecil dalam keterbatasan.

Pernah juga di sela-sela itu, Kang Apik sempat menekuni network marketing.
Ia berkeliling dari desa ke desa, sekolah ke sekolah, bahkan instansi ke instansi, membawa semangat dan motivasi tentang kemandirian ekonomi.

“Saya pernah menjual produk sambil berbicara di depan puluhan orang di balai desa,” kenangnya sambil tersenyum.
“Tapi yang lebih berharga dari hasilnya adalah keberanian untuk meyakinkan diri bahwa saya bisa.”


Tidak berhenti di situ, semangatnya menembus batas daerah.

Ia turut aktif di berbagai organisasi lintas wilayah dan bidang — dari PARA Indonesia Kabupaten Cirebon, lalu Pengurus DPD KNPI Kabupaten Cirebon dan Menjadi Pengurus Kota Batu, hingga dipercaya sebagai Wakil Sekretaris KNPI Provinsi Jawa Timur.

Di sinilah kemampuan komunikasi strategis dan kepemimpinannya makin terasah.

Ia belajar memimpin generasi muda yang beragam latar belakang, menghadapi dinamika politik organisasi, dan tetap fokus pada misi utamanya: membangun jejaring pemuda yang produktif dan berdaya.

Membangun, Jatuh, Bangkit, dan Menemukan Makna

Saat orang lain masih sibuk mencari peluang, Kang Apik sudah menciptakan sistem bisnis berbasis jaringan. Lahirlah Franchiseholic Indonesia.

Ia membuka pelatihan, mendampingi pengusaha kecil, dan merangkul pemuda untuk belajar berdagang dengan cara baru.

Tapi seperti semua pengusaha sejati, tak semua langkahnya mulus.

Ada masa ketika bisnisnya goyah, proyek terhenti, bahkan sempat kehilangan rekan dan kepercayaan.

Namun di titik itu, justru lahir kesadaran baru: bahwa perjuangan ekonomi bukan soal pribadi, tapi soal gerakan.

Dari situlah muncul gagasan besar:

“Bisnis tidak boleh berjalan sendirian. Ia harus menjadi jalan dakwah, menjadi jembatan agar umat berdaya.”

Menyelam ke Dunia Profesional: Antara Ambisi dan Pencarian Jati Diri

Perjalanan bisnis memang seperti roda berputar, Beberapa tahun kemudian, perjalanan membawanya ke dunia yang berbeda: perbankan, korporasi hingga asuransi dan properti.

Ia belajar di CIMB Niaga di Cirebon yang memberinya pelajaran tentang struktur, strategi, dan profesionalisme.


Perjalanan hidup membawanya ke Kota Malang, tempat di mana ia banyak menimba ilmu dan memperluas jaringan bisnis.

Ia menjadi General Manager CV Quantum Cendikia Malang ( Bergerak di Bidang Organized Olympiad kolaborasi dengan UB Malang) lalu meniti karier di Astra Toyota Malang — dua dunia berbeda, yang membentuk pengalaman lintas sektor itu membentuk gaya kepemimpinannya yang khas: strategis, kolaboratif, dan penuh empati.

Tak lama, jalan hidupnya menuntunnya ke dunia asuransi —
ia memulai dari tingkat terbawah, meniti jenjang dengan sabar, hingga akhirnya dipercaya sebagai Senior Agency Manager.

Di dunia yang keras itu, Kang Apik menemukan sesuatu yang tak ternilai: kemampuan berkomunikasi dan memahami manusia.

Ia belajar bahwa menjual bukan soal produk, tapi tentang kepercayaan dan hubungan hati.


Kang Apik bukan hanya aktivis yang pandai berpidato, tapi juga pekerja nyata di lapangan.
Ia menjabat Sekretaris Umum HIPMI Kota Batu 2 Periode dan Ketua Pesta Wirausaha TDA (Tangan Di Atas) Malang serta menjadi Wakil Ketua lalu Ketua Jaringan Saudagar Muhammadiyah Kota Malang— posisi yang mempertemukannya dengan dunia wirausaha muda dan ekonomi kreatif.

Di sinilah ia mulai menggagas konsep yang kini menjadi visinya:
"Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton di era digital, tapi harus menjadi pemain utama dalam ekonomi baru."

Dari Aktivis ke Inovator Digital

Kang Apik pernah dipercaya menjadi Direktur Digital IMA Chapter Malang dan kemudian Sekretaris Jenderal IMA (Indonesian Marketing Association) Malangmenandai peralihan peran dari aktivis ke digital strategist dan penggerak kolaborasi bisnis antar generasi muda.

Kang Apik mulai dikenal luas ketika terjun di dunia digital dan branding saat mendirikan PT Kipamedia Indonesia dan Fokus Properti— perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi strategis, digital marketing, dan pengembangan bisnis kreatif dan properti agent.

Melalui platform ini, ia banyak mendampingi pelaku UMKM bertransformasi menuju era digital.

Kariernya di Kipamedia sempat membawanya menjadi Agency di Mall Dinoyo Malang serta Menjadi Properti Agent beberapa Developer Besar di Malang dan Batu, salah satunya Primaland Group.

Perjalanan di Pusat Perbelanjaan saat juga dialami Kang Apik saat menjadi bagian dari casual leasing di Grage Group Cirebon.
Ia mengenal dua wajah dunia kerja: yang rapi dan profesional di pusat perbelanjaan, dan yang keras serta penuh negosiasi di lapangan.

Namun justru di situ, mentalnya ditempa.
Ia terbiasa menembus batas — berpindah dari kantor ke desa, dari ruang pendingin ke panasnya lapangan.


Dari Panggung Politik hingga Branding Tokoh

Dengan kemampuan komunikasi dan strategi yang ia asah selama bertahun-tahun, Kang Apik akhirnya menembus dunia yang lebih besar: branding politik.

Ia pernah menjadi bagian dari tim branding tokoh politik — bukan sekadar membantu kampanye, tapi menata citra dan strategi komunikasi hingga sukses meraih posisi penting untuk tokoh yang didampinginya.

Dunia politik memberinya pelajaran baru tentang psikologi massa, komunikasi publik, dan arah gerakan sosial.

Namun di balik jas rapi dan meja rapat megah, Kang Apik mulai merasa gelisah.
Ada bagian jiwanya yang seperti terkurung — jiwa wirausaha, jiwa pemberdaya, jiwa yang ingin melihat orang lain tumbuh.


“Saya bersyukur bisa belajar di sana,” katanya suatu kali, “tapi saya tahu, saya tidak dilahirkan untuk hanya menaiki tangga karier. Saya dilahirkan untuk membuat tangga baru — agar lebih banyak orang bisa ikut naik.”

Dan benar, setelah itu ia meninggalkan kenyamanan.
Ia memilih jalan yang lebih sulit: jalan membangun kembali, dari nol.


Kembali ke Cirebon: Membangun dari Akar

Sekarang, Kang Apik kembali ke tanah kelahiran — bukan untuk beristirahat, tapi untuk menyalakan api yang lebih besar.


Sebagai Aktifis, ia turun gunung menjadi Ketua PCPM Lemahabang, dan dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Lembaga Pengembang UMKM PD Muhammadiyah Cirebon, dan Korda SUMU Cirebon, ia membangun gerakan nyata: pelatihan UMKM, digitalisasi usaha, kolaborasi antar jaringan, dan program ekonomi berjamaah.

Dalam perjalanannya pun, Kang Apik dipercaya menjadi PIC Produk Lokal Berkualitas Global, ITMU di Serikat Usaha Muhammadiyah. 

Ia menjadi jembatan antara semangat dakwah dan dunia bisnis modern.
Ia membuktikan bahwa gerakan Muhammadiyah tak hanya kuat di bidang pendidikan dan kesehatan, tapi juga mampu menjadi pemain utama dalam ekonomi bangsa.


Berkolaborasi bersama Mentor Bisnisnya M Benhardi mendirikan Benplus Management serta Mendirikan Komunet Indonesia. 

Kelahiran Komunikasi.net dan Transformasi Menjadi Komunet: Sebuah Kisah tentang Perjuangan, Branding, dan Pemberdayaan Bangsa

Di balik setiap gerakan besar, selalu ada kisah perjalanan seseorang yang bekerja diam-diam, lalu tiba-tiba tampil sebagai mercusuar perubahan. 

Komunikasi.net lahir bukan dari keinginan sesaat, tetapi dari pengalaman panjang Kang Apik—seorang perantau pemikir yang menyusuri dunia pemasaran, pembiayaan, jaringan personal, dan pembinaan brand bersama istri, Bu Erni Yustinawati, yang aktif dalam Pengembangan SDM unggul.


Komunikasi.net: Sebuah Ruang Kolaborasi

Dari perjalanan panjang itulah muncul Komunikasi.net—bukan sekadar website, tapi rumah bagi para pemikir, penggerak, dan pelaku. 

Tempat belajar strategi branding, public speaking, digital marketing, pengembangan SDM, dan penumbuhan bisnis. Tempat di mana UMKM menemukan identitas visual, tempat para tokoh bisa membangun pesan, dan di mana generasi muda bisa belajar memimpin tanpa harus menunggu gelar.


Mulai dari pelatihan online, pendampingan sederhana, hingga publikasi di media yang menginspirasi ribuan pembaca.

Komunet: Dari Ide Menjadi Entitas Korporasi

Komunikasi.net berevolusi menjadi Komunet (PT. Alkeen Pangeran Tangguh)—sebuah entitas bisnis-berjejaring yang membantu:

- UMKM mengembangkan brand bisnis dan produk

- Tokoh publik membangun citra profesional dan amanah

- Industri menata komunikasi internal dan eksternal yang strategis

- Perusahaan memetakan dan meningkatkan kualitas SDM

- Perusahaan membangun Program CSR yang berdampak dan berkelanjutan


Dari membantu branding Super Khitan di Cirebon, membesarkan UMKM makanan dan minuman berbasis komunitas, sampai menyusun strategi branding digital untuk politisi yang ingin naik kelas—Komunet hadir sebagai teman seperjalanan yang tidak hanya paham strategi, tapi juga memahami semangat lokal.

Kuncinya: Melayani dengan Akal dan Hati


Di tengah derasnya digitalisasi, Komunet memegang teguh satu prinsip: branding bukan hanya soal visual, tapi tentang membangun kepercayaan. Dan kepercayaan dibangun dari hati—dari keberlanjutan, dari nilai, dari ketekunan.

“Bisnis bukan semata urusan cuan, tapi pengabdian untuk menjadikan manusia lebih baik, bangsa lebih tangguh.”
— Kang Apik


Demikianlah Komunikasi.net berdiri. Bukan karena modal besar, tapi tekad yang mendalam. Dengan pengalaman, jejaring, keahlian, dan niat baik, perjalanan ini masih berlanjut. 

Agar UMKM bangkit dengan percaya diri. Agar tokoh tampil dengan integritas. Agar SDM Indonesia melampaui batas.

Dari Cirebon ke Nusantara. Dari desa ke dunia.
Inilah Komunet.
Rumah Pemberdayaan Bisnis dan Branding Bangsa.